"Hakekat atau inti terdalam dari segala sesuatu yang ada, selalu terdiri dari dua hal pokok
yaitu bahan dan isinya atau bentuk dan bangunannya"
-Plato-
-Plato-
Manusia sebagai mahluk hidup memiliki kedua hal tersebut, yaitu raga/jasad sebagai bahannya dan ruh sebagai isinya. Jasad/ tubuh manusia dilengkapi dengan berbagai peralatan yang berguna untuk menjalankan indra, yaitu pendengaran dijalankan melalui telinga, penglihatan dijalankan melalui mata, pembau dijalankan melalui hidung, perasa melalui lidah dan peraba melalui kulit.
Indra yang dimiliki manusia merupakan manifestasi dari unsur pembentuk jasad itu sendiri. Unsur/anasir pembentuk jasad memancarkan energi yang disebut nafsu dimana dalam kehidupan manusia, energi yang dipancarkan tersebut (nafsu) memiliki perannya masing-masing. Nafsu inilah yang memungkinkan manusia untuk hidup, bersosialisasi, menciptakan budaya dan bahasa, berkembang biak serta mampu melakukan apapun melebihi mahluk lainnya.
Nafsu memiliki processor dengan kecepatan yang luar biasa yang disebut otak. Disinilah seluruh informasi yang didapatkan dari indra dimasukkan, diolah dan kemudian dikeluarkan sebagai tindakan. Otak manusia memiliki Kecerdasan Intelektual yang sering disebut IQ (Intelegent Quotient) yang akan mengantar manusia menemukan hal-hal baru dan mencapai kehidupan dengan teknologi tinggi.
Perilaku manusia sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan dan mengendalikan nafsu. Kemampuan dalam hal penggunaan dan pengendalian nafsu ini disebut Kecerdasan Emosi atau EQ (Emotional Quotient).
Berkaitan dengan adanya unsur kedua dalam diri manusia yaitu "Ruh", maka manusia juga memiliki kecerdasan lain yang disebut Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Kecerdasan Spiritual (SQ) memungkinkan manusia untuk mengenal dan memahami hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan serta keberadaan dimensi-dimensi lain di alam semesta.
Ruh bersifat halus dan sangat peka, memiliki dimensi yang lebih tinggi dari jasad, sehingga kecerdasan spiritual (SQ) yang merupakan produk dari keberadaan ruh, memiliki jangkauan yang jauh lebih tinggi dari IQ maupun EQ.
Dari berbagai penelitian yang telah dilakukan, kecerdasan emosi (EQ) memiliki peran yang jauh lebih signifikan dibandingkan kecerdasan intelektual (IQ). Kecerdasan otak hanya sebagian syarat untuk mencapai keberhasilan, namun sesungguhnya kecerdasan emosilah yang berpengaruh besar untuk membawa seseorang mencapai puncak prestasi.
Sangat banyak orang-orang yang memiliki IQ tinggi justru terpuruk dalam kehidupan, sebaliknya lebih banyak orang dengan IQ biasa-biasa saja jauh lebih sukses dengan bekal EQ yang baik.
Kecerdasan spiritual (SQ) membawa manusia kedalam pengertian mengenai alam ketuhanan dan kebenaran hakiki tentang kehidupan. SQ mengarahkan manusia untuk berbuat kebajikan, kasih sayang sesama mahluk, ketaatan, rasa syukur tentang apa yang telah diraih dan ketentraman jiwa. SQ juga terbukti sangat membantu menghilangkan keputusasaan ketika manusia berada dalam kesulitan.
Namun demikian, didalam kehidupan terdapat dikotomi antara kepentingan "duniawi" dan kepentingan "akherat". Hal ini terasa membingungkan karena keduanya memiliki kepentingan yang berlainan dan memiliki tingkat kesulitan yang sama dalam pencapaiannya.
Hanya manusia yang mampu menyelaraskan secara proporsional antara keduanyalah yang akan mendapatkan kekuatan jiwa-raga yang luar biasa dan penuh keseimbangan.
"Ukuran tubuhmu tidaklah penting. Ukuran otakmu cukup penting.
Ukuran hatimu itulah yang terpenting."
-BC Gorbes-